NONGKRONG RASA PIKNIK DI PIPIR IMAH



Bandung selalu memiliki daya tarik tersendiri yang mampu membuat siapa saja yang mengunjunginya sulit untuk melupakan kota ini. Bukan hanya sekadar letak geografisnya yang menjadi magnet bagi kota ini, tetapi juga beragam kuliner dan arena wisata yang ditawarkan Bandung enggak pernah gagal untuk memuaskan siapa saja yang menjajalnya.

Enggak heran jika Bandung termasuk kota yang menjadi surga kuliner. Dari mulai makanan pembuka hingga makanan penutup, dari mulai camilan hingga makan besar, dari mulai minuman kekinian hingga yang klasik selalu diburu. Bukan suatu yang mengejutkan jika pertumbuhan bisnis kuliner dan wisata di kota Bandung berkembang pesat. Selalu ada saja cafe, restoran, kedai kopi dan objek wisata yang baru di Bandung. Sayangnya, enggak semua tempat asik dengan hidangan lezat banyak diketahui wisatawan. Hal itu membuat Bandung masih menyimpan banyak hidden gem yang layak untuk Dentinger's kunjungi. 


Beberapa waktu lalu AC mobil saya tiba-tiba saja mati. Saat itu sudah hampir mahgrib. Kalau kata salah satu penulis horor, momen itu disebut Sandekala. Oke, saya enggak bakal bahas hal yang horor-horor di sini. Bukan apa-apa, selain saya yang terlahir dengan nyali sebesar biji sawi kalau menyangkut dunia astral, saya juga khawatir bakal mengambil lahan penulis horor, buahahahaha. Canda horor.  Kembali ke soal AC, setelah menelepon bengkel service AC langganan, saya langsung meluncur ke daerah jalan Pahlawan. Perkara AC mobil teratasi tepat saat jam makan malam, jadi saya memutuskan untuk mencari makan.

Dengan tingkat kepercayaan diri yang tinggi, kemampuan mengenali jalan yang minim akibat lupa membawa kacamata, dan ingatan yang samar soal jalan yang akan saya tempuh, Google maps yang ngadat akibat lemahnya sinyal, saya nekat berbelok ke sana ke mari. Tujuan awal ingin ke Dago melewati Kopi Gempol dan Hotel Swissbel, saya malah berakhir ke jalan-jalan menurun curam, tanjakan  sekaligus tikungan tajam. Meski begitu, saya menyukai perjalanan-perjalanan seperti ini. Menemukan tempat-tempat baru yang sebelumnya enggak pernah saya tahu.

Sambil bersenandung kecil dan sesekali bercanda dengan partner perjalanan dalam mobil kali itu, mobil terus melaju. Kali ini destinasinya diubah menuju salah satu cafe yang juga baru. Alias belum pernah saya kunjungi, bahkan saya dengar. Setelah melewati perjalanan seru dan mendebarkan akibat track-nya, akhirnya saya tiba juga di sebuah cafe bertema outdoor, di jalan Pakar Bar. Udara sejuk khas Dago langsung membelai kulit, meniup pelan anak-anak rambut saya. 

Untuk mencapai cafe, saya harus melewati undak-undakan yang diatur sealami mungkin. Enggak banyak, tapi cukup menambah kesan asri. Hamparan rerumputan hijau memanjakan mata, udara sejuk, lokasi yang strategis, tempat yang ramah anak, asyik juga untuk nongkrong bersama teman-teman, atau menikmati waktu makan bersama keluarga. Fix, Pipir Imah merupakan hiden gem bagi saya yang patut dibagikan kepada Dentinger's.



Saya memilih tempat duduk enggak jauh dari meja kasir. Namun, jika Dentinger's ingin menyantap hidangan sambil bercengkrama bersama teman atau keluarga di hamparan rumput juga bisa, dalam bahasa sunda kerap disebut, lesehan. Seperti slogannya "nongkrong rasa piknik", cafe ini benar-benar menyuguhkan sensasi nongkrong asyik layaknya berpiknik.




Urusan makanan, Dentinger's enggak perlu khawatir. Gimana enggak, pasalnya Chef yang meracik hidangan merupakan Chef yang sudah melanglang buana dari satu hotel ternama ke hotel ternama lainnya. Tak hanya memiliki pengalaman sebagai juru masak di hotel-hotel kenamaan di Indonesia, pemilik yang juga meramu makanan di Pipir Imah pun berpengalaman menjadi salah satu juru masak di hotel berbintang di Dubai. Hal ini yang membuat makanan-makanan yang ditawarkan di Pipir Imah enggak perlu diragukan lagi. 


Pada kesempatan kemarin, saya memesan satu camilan dan tiga jenis hidangan utama, yaitu tahu lada garam, beef kung pao, pan grill chicken steak dan spaghetti bolognese. Konser di dalam perut saya semakin hardcore ketika satu persatu makanan mulai tersaji. Aroma dari hidangan membuat nafsu makan saya yang sudah seperti anak dalam masa pertumbuhan kian melambung jauh terbang tinggi. Kabayang dong gimana lezat dan menggugah seleranya masakan Chef Pipir Imah? Saya curiga, jangan-jangan seharusnya slogan Pipir Imah bukan nongkrong rasa piknik, tapi jangan ada diet di antara kita.

Menu pertama yang mendarat dengan mulus di meja saya adalah tahu lada garam. Dari segi porsi memang enggak sebanyak tempat lain yang pernah saya kunjungi. Ya, wajar saja sih dari harga pun berbeda. Meski begitu, penampilan tahu lada garam a la Pipir Imah sangat menarik. Di sajikan di dalam mangkuk, disusun menggunung dan di atasnya diberi garpu. Seolah meminta untuk segera dinikmati. Soal rasa, enggak kalah dengan tahu lada garam di tempat langganan saya.


Saya beberapa kali pernah memesan menu yang sama di tempat lain, dan berujung mendapat daging ayam yang alot. Awalnya, saya agak cemas saat memesan pan chicken grill di sini, tapi begitu potongan pertama masuk ke dalam mulut, semua keraguan itu menguap begitu saja. Enggak ada tuh gading yang alot, rasa yang hambar, dan sebagainya. Sebaliknya, rasa chicken grill-nya benar-benar enak.


Beef kung pao yang terlihat sederhana ternyata menyimpan jutaan rasa yang mampu menggetarkan indera perasa. Olahan pakcoy dalam piring beef kung pao seolah melangkapi dan menjadi pasangan yang serasi. Dentinger's pasti sudah familiar dengan pepatah, don't judge the book by the cover. Naaaaahhhh! Pepatah ini yang pas banget buat beef kung pao milik Pipir Imah. 


Sejurus dengan kedua hidangan sebelumnya, spagetti bolognese Pipir Imah juga sukses mencuri perhatian saya. Spagetti merupakan menu yang banyak dijajakan di restoran-restoran, bahkan restoran cepat saji. Tapi, kalau Dentinger's ingin mencicipi mewahnya spagetti, Dentinger's enggak perlu ke restoran mewah atau hotel berbintang. Dentinger's cukup ke Jalan Pakar Bar saja, Pipir Imah akan memberikan spagetti terbaik mereka.

Soal minuman, saya tertarik mencoba salah satu racikan kopi. Sejak menjadi pekerja tinta komersil, saya bersahabat dekat dengan kopi demi memerangi kejaran deadline demi deadline. Pilihan racikan kopi saat itu jatuh pada tonic coffee. Segarnya tonic bercampur pahitnya kopi, diracik sempurna dalam gelas berukuran pas. Tonic coffee akan manjadi sajian beverage yang enggak bakal saya lupakan.  Bagi Dentinger's penyuka kopi yang selalu ingin mencoba rasa baru, Pipir Imah bisa menjadi rekomendasi tempat yang wajib Dentinger's kunjungi selanjutnya.



Enggak berhenti sampai di sana saja. Lidah dan usus dua belas jari saya masih dimanjakan lagi dengan hidangan penutup. Cheese cake dengan saus strawberry dan choco brownies & vanilla ice cream menjadi bagian puncak yang sempurna, menutup rangkaian makan malam dengan sangat memuaskan. Jika harus memberi rating untuk pengalaman makan malam kali ini, maka Pipir Imah layak diberi rating 9.4.




Bagi Dentinger's yang merencanakan pernikahan intimate dengan konsep outdoor dapat memasukan Pipir Imah sebagi referensi venue pernikahan Dentinger's. Space venue yang nyaman, area parkir yang luas, pelayanan yang ramah, lokasi yang stategis, cita rasa makanan yang enggak perlu diragukan lagi tentu dapat menjadi nilai tambah bagi Pipir Imah. Jika Dentinger's ingin menggunakan jasa catering pernikahan dari luar, Pipir Imah dapat membantu mengakomodir. Hal paling penting adalah harga paket yang ditawarkan Pipir Imah sangat bersahabat. Mengintip dari aku media sosial Pipir Imah, harga paket pernikahan yang ditawarkan relatif terjangkau jika dibandingkan dengan kompetitor lainnya. Menurut saya, Pipir Imah merupkan tempat yang layak disebut paket komplit.










Komentar

Postingan Populer